Banyak fresh graduate yang baru sadar satu setelah wisuda “ijazah saja tidak cukup”. Penyesalan paling sering muncul bukan karena IPK, tetapi karena merasa kurang eksplorasi dan kurang pengalaman saat menjadi mahasiswa.
“Seandainya dulu lebih aktif.”
“… ikut program di luar kelas.”
atau, “… dulu nggak cuma datang–duduk–pulang.”
Kalimat-kalimat itu sering terdengar setelah toga dilepas.
Stop Jadi Mahasiswa Kupu-Kupu
Mahasiswa kupu-kupu adalah sebutan bagi mereka yang menjalani pola kuliah–pulang, kuliah–pulang, tanpa banyak terlibat dalam organisasi atau aktivitas kampus. Tipe mahasiswa ini kerap dilekatkan dengan berbagai stereotip negatif, seperti dianggap malas, skeptis, kurang bersosialisasi, atau no life.
Sumber: ONE Indonesia
Faktanya
Berdasarkan data, sekitar 87% mahasiswa di Indonesia merasa salah jurusan, yang seringkali berkaitan dengan kurangnya pengembangan diri (seperti tipe mahasiswa kupu-kupu).
👉 Akibatnya, lebih dari 50% lulusan perguruan tinggi bekerja tidak sesuai dengan jurusan, memicu penyesalan setelah lulus karena kurangnya pengalaman organisasi atau magang.
Kenapa Banyak Fresh Graduate Bingung Arah Karier?
Sumber: ONE Indonesia
Selain menjadi mahasiswa kupu-kupu yang kurang aktif, banyak fresh graduate yang bingung arah kariernya hingga menyesel karena:
- Tidak bangun relasi & networking sejak kuliah
- Tidak kenal diri sendiri: minat, value, dan arah karier
- Tidak Terlalu fokus “nanti aja” sampai lupa mulai
- Tidak sadar pentingnya soft skill (komunikasi, teamwork, problem solving)
Padahal, dunia kerja sekarang nggak cuma tanya “lulusan mana?” tapi juga “sudah pernah ngapain?”
Saatnya Upgrade Diri: Pengalaman, Skill, dan Arah Karier
Ikuti Program Pengembangan Diri yang Bisa Jadi Batu Lonjakan
Kalau kamu bingung mulai dari mana, coba ikut program yang terstruktur. Salah satunya dari ONE Indonesia yang konsisten menghadirkan berbagai program pengembangan karier untuk siswa, mahasiswa, dan fresh graduate.
Terdapat contoh program yang relevan dan on-boarding saat ini yaitu Biznovation Challenge Program. Program ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang kompetisi ide bisnis, tetapi juga dirancang sebagai proses capacity building melalui sesi enablement yang terstruktur sebelum tahapan kompetisi dimulai.
Program-program seperti ini bukan cuma menambah sertifikat, tetapi juga melatih cara berpikir dan bekerja secara profesional sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja.
Mengikuti Internship Saat Masih Kuliah
Agar ONEtizens tidak nyesel setelah lulus, kamu bisa mengikuti internship saat masih kuliah, dan berikut ini beberapa tips yang bisa kamu terapkan dari sekarang:
Mulai dari semester awal
Tidak harus nunggu “siap”. Justru kesiapan itu datang dari proses.
Pilih internship yang relevan atau eksploratif
Mau sesuai jurusan atau lintas bidang, mau paid or unpaid, dua-duanya valid asal ada kemampuan dan pembelajaran yang diminati.
Bangun portofolio, bukan cuma absensi
Catat hasil kerja, insight, dan skill yang kamu dapat baik dari internship, volunteer, paruh waktu, dan experience lainnya.
Atur ritme, jangan lupa healing
Capek itu wajar. Healing boleh, tetapi jangan sampai berhenti bertumbuh. Istirahat sebentar, lanjut lagi.
Gabung program pendukung karier
Contohnya seperti Bootcamp, challenge, atau career program bisa bantu kamu lebih siap dan terarah.
Jangan Tunggu Kalimat “Seandainya”
Sumber: ONE Indonesia
Kuliah bukan cuma soal lulus, tapi soal menyiapkan diri. Karena setelah toga dilepas, dunia kerja nggak tanya: “Dulu kamu mahasiswa tipe apa?”
Tapi: “Apa yang bisa kamu kerjakan sekarang?”
Mulai sekarang, biar nanti tidak perlu bilang:
“Seandainya dulu…”
Kesimpulan
Penyesalan setelah lulus bukan soal IPK atau cepatnya wisuda, melainkan karena kurangnya pengalaman, eksplorasi, dan kesiapan diri saat masih mahasiswa. Menjadi mahasiswa kupu-kupu memang terasa aman, tetapi tanpa keterlibatan dalam organisasi, internship, dan pengembangan diri, risikonya adalah CV yang kurang kompetitif, arah karier yang tidak jelas.
Karena itu, penting bagi mahasiswa untuk mulai bergerak sejak dini, membangun pengalaman, relasi, dan kemampuan agar setelah lulus tidak lagi mengucapkan “seandainya dulu”, melainkan siap menghadapi dunia profesional.