Prilly Latuconsina “Open to Work” dan Connect 30 Ribu Tawaran Kerja: Efek Personal Branding – Beberapa waktu lalu, publik dibuat heboh ketika Prilly Latuconsina menampilkan status “Open to Work” di LinkedIn. Bukan karena beliau kekurangan pekerjaan, tetapi justru sebaliknya.
Dalam waktu singkat, Prilly disebut menerima tiga puluh ribu koneksi dan tawaran kerja. Sebuah fenomena yang langsung memicu satu kesimpulan terkait “personal branding bekerja sangat kuat di era digital”.
Bukan Sekadar Status, tetapi Strategi Nyata
Bagi sebagian orang, fitur Open to Work mungkin hanya dianggap sebagai tanda sedang mencari kerja. Namun pada kasus Prilly, langkah ini menjadi strategi komunikasi personal branding yang sangat efektif.
Prilly “tiba-tiba” tidak relevan dengan karir awalnya. Reaksi besar dari publik dan profesional muncul karena:
- Beliau sudah lama membangun citra sebagai figur publik yang produktif, konsisten, dan berkembang
- Aktif di berbagai bidang seperti akting, bisnis, pendidikan, hingga produksi konten
- Memiliki rekam jejak yang jelas, bukan sekadar popularitas instan
Ketika status Open to Work muncul, publik langsung mengaitkannya dengan reputasi yang sudah terbentuk.
Personal Branding = Persepsi + Konsistensi
Menurut Lair, Sullivan, dan Cheney (2005),
"Personal branding merupakan upaya membangun citra dan persepsi publik terhadap diri seseorang, sehingga dapat dikenal, dipercaya, dan dipilih layaknya sebuah merek di mata target audiens."
Sumber: ONE Indonesia
Dari hal ini, Prilly secara tidak sengaja menegaskan bahwa personal branding bukan soal pencitraan yang palsu, melainkan:
- Apa yang orang pikirkan tentang kamu
- Berdasarkan apa yang kamu lakukan secara konsisten
Sumber: ONE Indonesia
Menurut Telkom (2025), personal branding yang kuat dapat dibangun melalui beberapa langkah utama, seperti:
Menetapkan tujuan yang jelas serta memahami diri sendiri
Proses ini penting karena sebagai langkah awal untuk mengetahui potensi, nilai, dan arah yang ingin dicapai, sehingga strategi personal branding dapat disusun secara lebih terarah.
Melakukan riset terlebih dahulu
Sebelum menentukan citra atau pesan yang ingin ditampilkan, seseorang perlu memahami target audiens. Dengan riset yang tepat, strategi personal branding dapat disesuaikan agar lebih efektif dan relevan dengan sasaran yang dituju.
Membentuk karakter yang selaras dengan kepribadian diri
Berdasarkan hasil pemahaman diri dan riset, karakter yang ditampilkan sebaiknya mencerminkan nilai serta kepribadian yang dimiliki. Keaslian dan kejujuran menjadi fondasi penting karena berperan besar dalam membangun kepercayaan dan relasi yang bermakna.
Menjaga konsistensi dalam setiap tindakan
Konsistensi membantu menciptakan ciri khas yang membedakan dirinya dengan orang lain, sehingga lebih mudah dikenali dan diingat. Selain itu, komunikasi yang baik dengan lingkungan sekitar juga perlu terus dijaga dalam setiap aktivitas yang dilakukan.
Mengikuti pelatihan profesional
Personal branding tidak hanya berkembang dari refleksi diri, tetapi juga dari pembelajaran eksternal. Contohnya seperti mengikuti webinar, workshop, atau kursus/pelatihan yang dibimbing oleh ahli dapat memberikan wawasan baru sekaligus membantu penerapan strategi personal branding secara praktis dan sesuai dengan kebutuhan dunia nyata.
Prilly tidak perlu menjelaskan panjang lebar terkait siapa dirinya. Karena publik sudah tahu dengan sendirinya.
Apakah relevan untuk Non-Public Figure?
Sumber: ONE Indonesia
Jawabannya: sangat relevan. Karena kita bisa memanfaatkan platform digital, seperti:
- Sosial Media yang dapat dimanfaatkan sebagai “CV berjalan”
- Dan jejak digital merupakan representasi sekaligus reputasi kita pribadi
Personal branding yang kuat bisa membuat:
- Recruiter datang terlebih dahulu
- Kesempatan terbuka tanpa melamar
- Kamu dipilih karena value, bukan hanya ijazah
Pelajaran Penting untuk Gen Z & Fresh Graduate
Dari Prilly Latuconsina ini memberi satu pesan besar, yaitu:
“Kesempatan tidak selalu datang dari melamar, tetapi dari dikenal”
Kita bisa memulai melalui beberapa hal sederhana, yaitu:
- Rapikan sosial media yang kita miliki
- Ceritakan proses, bukan hanya hasil
- Tunjukkan skill melalui konten atau karya
- Bangun reputasi sebelum benar-benar “butuh”
Karena
ketika personal branding sudah kuat, satu status kecil bisa membuka ribuan peluang.