Pancasila Dan Dilema Pilihan Ganda

By November 2, 2017Opini, Pojok Totok
vianeso

I disapprove of what you say, but will defend to the death your right to say it.” (Voltaire). Voltaire sering dikutip ketika suatu masyarakat yang demokratis sedang galau.  Saat ini, masyarakat kita sedang mengalami kegundahan menghadapi perbedaan pendapat.  Atmosfir benar sendiri atau mau menang sendiri begitu dominan mewarnai wacana publik. Rasa kebatinan yang berkutub secara tajam ini – antara yang pro dan kontra terhadap berbagai isu kebangsaan – semakin kental dengan bantuan teknologi digital lewat beragam media sosial.  Kemungkinan ini salah satu hasil pendidikan kita selama ini yang mengandalkan tes berbasis pilihan ganda.

Format soal kalimat yang diikuti dengan empat atau lima pilihan jawaban sudah kita gunakan sejak era Orde Baru.  Tes pilihan ganda terdiri dari dua bagian, yaitu stem (pertanyaan atau pernyataan) dan jawaban (jawaban benar dan jawaban pengecoh).  Konon, tes semacam ini sangat efektif dan efisien dalam mengukur kemampuan pengambil tes dalam memahami konsep secara lengkap. Memang lebih mudah mengoreksi soal pilihan ganda daripada jenis soal lainnya, misalnya esai.  Terbayang betapa ribetnya memeriksa soal esai yang jawabannya relatif, sering unik dan multi-interpretatif.  Secara tidak langsung, soal pilihan ganda menghambat kompetensi untuk literasi di antara anak-anak kita.  Untuk menjawab soal esai atau terbuka lainnya, si pengambil tes harus bisa menulis dan membaca dengan baik.

Mock-testSumber Foto

Efek yang tidak kita sadari dari tes pilihan ganda adalah memberi impresi bahwa kebenaran absolut itu ada.  Makin sering dilakukan, maka pengambil tes – itu bisa siswa, guru, kepala sekolah, dan para profesional lainnya – merasakan dalam hatinya bahwa jawaban yang benar dan satu-satunya itu ada.  Jangan salah.  Bukan hanya siswa yang dites pilihan ganda.  Guru dites melalui Uji Kompetensi Guru (UKG) dengan penyusunan soal (stem) berdasarkan deretan kompetensi sesuai Permen atau PP yang kemudian dihubungkan dengan satu jawaban benar dan beberapa jawaban pengecoh.  Begitu juga tes untuk para Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Administrasi Sekolah.  Penerapan uji pengetahuan dan sampai kompetensi dengan pilihan ganda ini memang efisien untuk sekitar 4 juta guru dan tenaga kependidikan.  Persiapannya relatif mudah, hasilnya cepat dan renyah.

Ketika impresi personal dan massal ini digabungkan dengan ideologi bangsa Pancasila, maka kita dapat mengharapkan hasilnya adalah sikap yang monologis, bukan dialogis.  Negara merepresentasikan otoritas yang paling berhak menerjemahkan mulai dari konsep sampai praksis Pancasila.  Kelemahan dari pendekatan seperti ini adalah konsep Pancasila tergantung kepada selera pemerintah yang berkuasa saat itu.  Winston Churchill pernah mengatakan bahwa sejarah ditulis oleh para pemenang.  Kalau pemilu dimenangkan oleh parpol A, maka seluruh proses penerjemahan nilai-nilai Pancasila menjadi monopoli parpol pemenang tersebut.

Di era sumber kerumunan (crowd-sourcing) dan media sosial yang dahsyat seperti saat ini dan di masa depan, penerapan nilai-nilai luhur Pancasila memerlukan pendekatan yang berbeda.  Dalam memasyarakatkan ideologi Pancasila, kita bisa mulai dari mengurangi pendekatan pilihan ganda dalam mengetes pengetahuan dan kinerja siswa dan guru serta tenaga kependidikan lainnya.  Kita mulai dari sektor pendidikan, karena di sinilah “medan pertempuran” berbagai ideologi yang sebenarnya.  Pancasila saat ini seperti mati langkah karena kesalahan rejim Orde Baru yang menggunakannya sebagai alat kekuasaan.  Seyogyanya kita memanfaatkan sekolah dan ekosistemnya sebagai ruang publik untuk dialog; Kita berikan ruang yang luas buat anak-anak kita memahami nilai-nilai Pancasila secara praktis dan menyenangkan.  Bukan dengan soal dan jawaban yang tertutup untuk pendapat alternatif.  Belum lagi kalau sesi pembelajarannya kaku dan satu-arah.  Komplit sudah proses pendidikan yang mematikan jiwa Pancasila itu.

Dari lingkungan sekolah, pilihan ganda dipakai secara bijak dalam proses evaluasi hasil belajar.  Diskusi mendalam lebih cocok untuk Pancasila.  Selanjutnya, kita membuka ruang-ruang publik non-sekolah untuk menghidupkan Pancasila dalam keseharian melalui bidang-bidang yang menarik seperti olahraga, bisnis, dan seni kreatif.  Kita bersama-sama membereskan kecurigaan antar kelompok dengan menarik esensi hidup bersama sebagai bangsa.  Semangat kerja nyata pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla untuk mengatasi masalah sosial, budaya, politik, dan ekonomi justru menghidupkan Pancasila sebagai ideologi yang dekat dengan denyut jantung rakyat.  Mari membuka kesempatan kepada awam untuk melihat dan merasakan Pancasila dari sudut pandangnya tanpa penghakiman.  Kebuntuan dialog akibat sikap yang menonjolkan “in-group” dan “out-group” – ada yang merasa paling benar, nyinyir terhadap yang dianggap salah – harus dihilangkan.  Mari bersama-sama kita yang ada di kelompok ormas, seni, koperasi, korporasi, dan olahraga memahami Pancasila dengan cara masing-masing, tetapi dengan semangat cinta tanah air bisa saling memperkuat.  Kita menghargai pendapat yang berbeda, karena setiap kita adalah bagian dari rajutan tenun kebangsaan.

Mari kita manfaatkan teknologi informasi untuk membumikan Pancasila dengan lebih baik.  Polri menjaga koridor dengan tegas menindak pelaku ujaran kebencian (hate speech) dan berita palsu.  Lembaga pemerintah lainnya harus sigap berdialog membahas Pancasila dengan bahasa populer melalui media sosial, wujud “ruang publik” versi filosof Jurgen Habermas dimana warga sipil berkumpul membentuk “publik”.  Kita sekarang sudah memiliki banyak sekali “ruang publik” seperti ini, dengan menjamurnya grup-grup virtual di media sosial.  Pendekatan monopoli kebenaran seperti pendekatan pilihan ganda dalam sosialisasi Pancasila sudah kuno.  Yang diperlukan saat ini justru kemampuan pemerintah dan warga masyarakat membangun dialog secara egaliter dan kekinian.  Pancasila itu hidup: dia ada dari kita, untuk kita, dan oleh kita.

 

Totok Amin Soefijanto adalah Pakar riset Paramadina Public Policy Institute

 

Sumber Foto Featured

Leave a Reply