WhatsApp Image 2017-05-03 at 16.15.48

Pertanyaan yang mungkin sudah ribuan tahun diajukan banyak orang.  Ya, kenapa kita mesti belajar?  Jawabannya yang mudah adalah karena manusia mesti bertahan hidup.  Di jaman sekarang pun, setiap manusia harus bisa hidup dengan baik.  Sejak lahir hingga ke liang kubur, kita harus terus menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di sekitar agar tetap hidup.  Bayangkan kalau kita tidak memiliki “bekal pengetahuan” yang cukup, misalnya kita tidak tahu cara makan dan minum yang benar.  Pengetahuan itu kemudian menjadi semakin kompleks, dari cara mendapatkan uang sampai membangun masyarakat yang sehat, kuat dan harmonis.

Di situlah konsep “pendidikan” mulai dilahirkan demi kelangsungan hidup manusia dan peradabannya.  Sebelum terlalu jauh, ada baiknya saat ini kita tidak menyamakan “pendidikan” dengan “sekolah”, karena dua hal itu sangat berbeda.  Ada orang yang berpendidikan meskipun tidak sekolah dengan baik.  Contohnya, ibu Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan RI, yang tidak menyelesaikan pendidikan formalnya secara tuntas.  Siapapun tidak akan meragukan kompetensi beliau, karena proses pendidikan non-sekolahnya yang menempa dirinya dengan baik.  Mark Twain menyebutkan: “I have never let my schooling interfere with my education” (Saya tidak akan pernah membiarkan persekolahan saya mengganggu pendidikan saya).

Kalau kita mengamati beberapa kelompok masyarakat yang tidak membolehkan warganya ke sekolah, sebenarnya mereka menghindari efek negatif dari persekolahan tersebut.  Pemikir pendidikan seperti Ivan Illich dan Paulo Freire sangat curiga terhadap persekolahan formal yang dibiayai negara, karena mereka menganggap sekolah sebagai ajang propaganda dan proses di dalamnya mematikan semangat kemandirian dan kreativitas.  Suku Baduy di kabupaten Lebak, provinsi Banten, dapat menjadi contoh “kritik” terhadap persekolahan formal yang ada saat ini.  Apakah akibatnya anak-anak mereka tidak mendapatkan pendidikan?  Kelihatannya tidak.  Anak-anak mereka justru memiliki keleluasaan yang sangat besar untuk mengeksplorasi alam sekitarnya: sungai, bebatuan, tebing, lembah, jurang, pepohonan, ayam, kerbau, hutan dan seisinya.  Tidak ada jam masuk dan pulang.  Mereka bebas masuk dan keluar “ruang kelas” setiap saat.

Sesekali anak-anak ini saat menginjak usia sekolah sekitar 6 tahun sudah mulai menjelajahi wilayah di luar kesehariannya.  Beberapa anak akan membawa hasil panen keluar wilayah Baduy dengan mengikuti orang dewasa sebagai mentornya.  Ini cara mereka belajar ketrampilan hidup (life skills) secara canggih, karena menurut Rousseau, pembelajaran secara langsung di alam dengan panduan seorang mentor dapat mendorong lebih cepat pemahaman sang anak tentang segala sesuatu yang ingin diketahuinya.  Perjalanan anak-anak Baduy ini ke wilayah “asing” itu ibarat nasehat Plato yang membawa anak-anak calon prajurit ke medan perang dalam kurungan perlindungan yang kokoh.  Mereka ada di medan perang untuk merasakan suasana dan udara keganasan perang, tetapi mereka tidak terlibat langsung.  Ada orang dewasa yang memandu dan melindungi mereka dari ancaman langsung.  Apakah sekolah formal dapat menerapkan metode-metode Rousseau dan Plato tersebut?

Satu hal lagi yang kini menjadi tren adalah proses pembelajaran yang membahagiakan.  UNESCO mengkampanyekan konsep “Happy Schools” yang menarik saripati petuah Aristoteles tentang tujuan utama proses pendidikan adalah kebahagiaan.  Salah kalau persekolahan kita membuat anak-anak sedih, menderita, sengsara, dan merasa terbebani.  Jiwa yang tertekan seperti itu tidak akan maksimal daya serapnya terhadap ilmu pengetahuan.   Walaupun di sisi lain, Aristoteles juga pernah bilang bahwa “learning is no entertainment” dalam konteks proses menyerap kebijaksanaan itu akan lebih cepat prosesnya dari pengalaman yang kurang menyenangkan.  Kita cenderung ingat kesusahan, tetapi cenderung lupa akan kesenangan.  Secara keseluruhan, proses pendidikan memang sebaiknya dalam atmosfir yang membahagiakan sang anak dan sang guru.  Kedua aktor dalam proses pembelajaran itu – guru dan murid — harus gembira agar aktivitasnya memberikan stimulus untuk bekerjasama mengarungi belantara ilmu pengetahuan yang luas.  Mereka dapat belajar hal-hal baru secara konsisten dan berkelanjutan.

Anak-anak suku terasing seperti di Baduy kelihatan sangat bahagia, tidak ada pekerjaan rumah karena mereka tidak memiliki penerangan yang memadai karena tidak ada listrik.  Mereka anak-anak yang paling bahagia di dunia ini, tanpa perlu menerapkan konsep “Happy Schools” tadi.Mereka bahkan dapat menyerap konsep nilai dan etika dengan alamiah.  Kenapa tidak ada barang hilang dan pencurian di wilayah Baduy? Masyarakat ini menghargai kejujuran sebagai syarat utama hidup sebagai manusia.  Proses pendidikan karakter mereka tidak membutuhkan pelatihan atau workshop penguatan pendidikan karakter seperti sekolah formal.  Mereka melakukannya secara langsung sambil jalan (learning by doing) sebagaimana rekomendasi John Dewey tentang manfaat pengalaman dalam proses pembelajaran.  Tidak ada definisi berlembar-lembar tentang berbagai nilai baik, mereka sudah dapat menjalankan etika moral dan karakter dengan baik.  Segala sesuatu yang menyangkut karakter adalah tulus dan genuine.  Kejujuran dan laku yang baik adalah dijalankan, bukan upaya  penguasaan untuk berpura-pura jujur dan baik karena ada motif menguntungkan diri sendiri di baliknya.  Sekolah formal harus menghindari konsekuensi yang tidak disengaja (unintended consequences) tersebut sehingga menghasilkan anak-anak yang pandai berpura-pura menjadi anak baik.  Pelajaran dari suku-suku terasing yang menentang sekolah adalah olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga sudah menjadi bagian hidup sehari-hari.  Mereka belajar dari kehidupan langsung.  Kelemahan mereka hanya satu: penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Kalau saja mereka dapat menggabungkan pendidikan karakter alamiah tadi dengan penguasaan iptek, maka sahih bila kita sekarang harus bersama-sama menerapkan proses pendidikan yang lebih alamiah dan membahagiakan itu di sekolah formal.

Selamat Hari Pendidikan Nasional.  Semoga upaya kita semua dari berbagai lapisan, status sosial, dan profesi dapat memajukan pendidikan secara bersama-sama.  Semoga sukses!

Totok Amin Soefijanto, MA., Ed.D

Wakil Rektor 1 Universitas Paramadina, senior advisor ACDP Indonesia-Balitbang Kemdikbud RI, dan penasehat ONE Indonesia.

Languages