In Pojok Totok, Satu Inspirasi

Toleransi adalah bukti kematangan jiwa seseorang.  Sikap semacam ini memerlukan kemampuan besar memahami orang lain, sekaligus mencerminkan kebesaran jiwanya dalam menerima perbedaan.  Tanggal 16 November ini, kita memeringati Hari Toleransi Dunia.  Semua umat beragama memiliki keteguhan iman dan percaya bahwa agamanyalah yang benar.  Di sisi lain, keteguhan itu tidak mengabaikan keberadaan agama lain beserta umatnya.  Dalam Islam, misalnya, ada ayat yang menyebutkan “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (Al Kafirun: 6).  Di situlah sebenarnya toleransi dan keterbukaan Islam terhadap pemeluk agama lain.  Semangat inilah yang menurut Khaled Abou El Fadl menentukan peradaban luhur manusia di masa depan setelah mengambil hikmah dari sejarah.  “Semua kebaikan sejarah itu sekarang berada di pundak para pemikir Muslim kontemporer untuk diteruskan”, tulisnya dalam Boston Review edisi 1 Desember 2001 – tiga bulan setelah peristiwa September 11.

Sikap ekstrim dan tidak toleran ada di setiap agama.  Kemajuan sains dan teknologi yang kemudian mengikis peran agama juga mulai muncul.  Bagi sebagian ateis baru, agama justru menjadi penghalang perdamaian.  Banyak perang disebabkan agama, atau mengatasnamakan agama.  Samuel Huntington almarhum dalam “Clash of Civilizations?” (perhatikan tanda tanya di judul ini) menyebutkan bahwa konflik di masa depan akan banyak disebabkan oleh perbedaan budaya dan agama. Esai Huntington ini terbit pertama kali di jurnal Foreign Affairs pada 1993 dengan gambaran perang kecil di berbagai wilayah.  Sangat menyentak bagi para pengamat politik dunia Islam, seperempat abad kemudian, tesis itu masih sangat membekas di benak para pemikir sosial dan ekonomi hingga sekarang.  Perang saudara di Suriah, maraknya ISIS, dan goncangnya geopolitik Timur Tengah seperti membenarkan ramalan Huntington.  Pertanyaan kritisnya: mungkinkah konflik yang terjadi saat ini “disebabkan” tesis Huntington?  It is a self-fulfilling prophecy

Kita justru membutuhkan toleransi saat ini.  Dunia sudah semakin kompleks dan moderen.  Manusia dan peradaban di dalamnya sudah semakin beragam, dengan tingkat kehidupan yang lebih baik – khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan – membuat harapan hidup semakin panjang.  Kesempatan semakin terbuka untuk siapa saja menjadi manusia yang berhasil, terlepas dari agama, suku, bangsa, etnis, dan gender (jenis kelamin).  Bumi kita yang semakin dipadati penduduk dan terancam polusi, juga pemanasan global, membutuhkan kita semua untuk bekerja keras.  Bagaimana mengatasi kebutuhan pangan dan energi buat 7,5 miliar penduduk (2016)?  Di sinilah semangat toleransi diperlukan.  Kita harus saling menenggang-rasa dan menghargai sesama, karena kita bersama-sama menghadapi masalah.  Kita perlu bekerjasama dan memanfaatkan semua bakat dan kepandaian yang ada, terlepas agama, ras, suku, gender, dan sebagainya.

Persoalan toleransi menjadi berat, karena masih banyak saudara-saudara kita yang belum mendapatkan pendidikan yang baik, pelayanan kesehatan yang memadai, dan posisi ekonomi-sosial yang masih rendah.  Perjuangan mendorong toleransi menjadi berat ketika sebagian dari kita tidak melek huruf, literasi kurang, dan kesempatan belajar nyaris hilang.  Demokrasi menjadi utopia buat orang-orang yang tertinggal dan tertindas.  Mereka membutuhkan kesempatan yang sama, atau kalau perlu kesempatan yang diadakan khusus buat mereka (aksi afirmasi atau affirmative action) agar dapat sejajar dengan rekan-rekannya di masyarakat.  Oleh sebab itu, kita perlu membangun manusia melalui pendidikan yang bermutu buat saudara-saudara kita sebangsa setanah-air yang kurang beruntung.

Kemampuan bertoleransi dimulai dari pendidikan dini di keluarga, lalu berlanjut ke sekolah formal dan pergaulan di masyarakat.  Toleransi, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), adalah sikap atau sifat “toleran”.  Nah, arti toleran sendiri adalah “bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri”.   Di sinilah perlunya pendidikan yang bermutu buat anak-anak kita agar mereka mampu mewujudkan sikap toleran tersebut.   Apakah pendidikan yang baik menjamin seseorang menjadi toleran?  Belum tentu juga, namun setidaknya kalau dilihat porsi terbesar masyarakat beradab dan toleran biasanya terdiri dari orang-orang yang terdidik dengan baik.

Toleransi dapat ditumbuhkan dengan kepedulian sosial dari mereka yang sudah berhasil.  India yang relatif lebih berat tantangan toleransinya saat ini mendorong perusahaan yang berhasil membantu mendirikan laboratorium sains dan komputer untuk kaum minoritas, marjinal, wanita, dan anak berkebutuhan khusus.  Negara harus hadir untuk memperkuat semangat toleransi dengan menghargai keragaman, pembangunan infrastruktur, pengendalian harga sembako, penyediaan kesempatan pelatihan, dan penegakan hukum.  Presiden Joko Widodo juga menambahkan agar mayoritas melindungi minoritas dan sebaliknya minoritas menghargai mayoritas.  Peran negara memang seharusnya mendorong kerjasama semua warganegara dari semua agama, ras, suku, dan gender agar cita-cita bangsa tercapai.  Semua itu memungkinkan apabila semua pihak menjalankan toleransi secara baik dan nyata, bukan hanya retorika.

Sikap toleran dapat dimulai dari hal-hal yang kecil.  Kita biasakan anak kita melihat temannya dari penganut agama lain dalam beribadah, misalnya.  Kok berbeda?  Kita menjelaskan kepadanya dengan semangat toleransi.  Hasilnya berbeda kalau kita sebagai orangtua memberikan penjelasan yang negatif dan merendahkan.  Masih ada keluarga yang membesarkan anaknya dengan semangat intoleran tanpa disadarinya.  Sikap kita yang “berbeda” saja bila berhubungan dengan rekan yang berbeda agama atau suku dari kita akan ditangkap anak-anak kita dengan mudah.  Stereotip yang kita sampaikan mengenai suku tertentu atau penganut agama tertentu akan membekas di benak si anak bila dewasa nanti.  Oleh sebab itu, kita harus mulai dari diri kita sendiri.  Contoh: Cobalah berbesar hati bila ada orang yang berbeda dari kita melakukan kesalahan.  Sering kita mengomel: “Dasar si A ….(agama, gender, atau suku?), makanya …. (cap negatif).  Ungkapan sepele seperti itu bila didengar si anak akan membentuk persepsi si anak tentang kelompok tertentu dengan stereotipnya.

Ada nasehat yang baik dalam menumbuhkan toleransi di antara kita.  Salah satunya adalah terapkan keramahan secara acak (apply random kindness).  Kita harus tersenyum dengan siapapun yang kita temui dimanapun dan kapanpun.  Mudah bukan?  Mudah diucapkan, tetapi cobalah terapkan mulai hari ini.  Jangan melihat warna kulitnya, bajunya, atau atribut-atribut yang “berbeda” dari kita.  Di situlah sebenarnya strategi agar kita menjadi pribadi yang toleran dan menghargai orang yang berbeda dari kita.  Imbalan atau pahala yang kita peroleh akan sangat besar buat jiwa kita.  Inilah rahasianya: toleransi bukan untuk orang lain, tetapi untuk diri kita sendiri.  Selamat Hari Toleransi Dunia, semoga kita berhasil menjadi orang yang memiliki toleransi.

Penulis adalah Wakil Rektor 1 Universitas Paramadina, senior advisor ACDP Indonesia-Balitbang Kemdikbud RI, dan penasehat ONE Indonesia

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Start typing and press Enter to search