Warning: is_file() expects parameter 1 to be a valid path, string given in /srv/users/serverpilot/apps/oneindonesia/public/wp-content/plugins/sitepress-multilingual-cms/embedded/wpml/commons/src/wpml-auto-loader.php on line 121
Memilih Menjadi Pahlawan - Bermimpi dan Berani Bertindak - One Indonesia - Bantuan Pendidikan di Indonesia

Memilih Menjadi Pahlawan – Bermimpi dan Berani Bertindak

pietboekoe

“Jika hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan saja hidup!” –Buya HAMKA

Konon, ada yang mengatakan bahwa hidup ini diawali dengan huruf “B” yang berarti Born, kelahiran. Dan diakhiri oleh huruf “D” sebuah huruf awal dari kata Dead, kematian. Ya, memang terdengar sederhana, hidup diawali dengan kelahiran dan berakhir dengan kematian. Tapi, jika dilihat dari susunan abjad, di antara huruf “B” dan “D” ada huruf “C” yang berarti Choice, pilihan. Dalam hidup selalu ada pilihan: Menjadi baik atau jahat, menjadi rajin atau malas, menjadi berguna atau sebaliknya. Semuanya harus kita pilih dan tentunya dengan konsekuensi yang berbeda pula. Tidak mungkin seorang yang cerdas dalam hal akademik adalah seorang yang bermalas-malasan, karena hal itu bertentangan dengan hukum alam. Tidak mungkin juga seorang yang sukses adalah orang yang berdiam diri, karena lagi-lagi, hal itu bertentangan pula dengan hukum alam. Singkatnya, hukum alam hampir tidak mungkin salah. Benar kiranya apa yang dikatakan sastrawan Pramodya Ananta Toer, bahwa keberanian bukanlah anugerah, akan tetapi hasil latihan hidup sehari-hari, begitu pula dengan kecerdasan dan kesuksesan

Lalu yang jadi pertanyaan kemudian adalah, apakah cukup kesuksesan dapat diraih hanya dengan keberanian dan mimpi besar? Tentu tidak. Jika dianalogikan, kesuksesan diibaratkan sebuah gedung, keberanian dan mimpi besar itu  adalah sebuah pondasi, sedangkan yang jadi temboknya adalah tindakkan. Untuk menghasilkan sebuah gedung yang megah, maka diperlukan “pondasi” yang kokoh dan “tembok” yang ajeg. Dengan kata lain, untuk mencapai kesuksesan, mutlak diperlukan keberanian/ mimpi besar dan direalisasikan kedalam sebuah tindakkan.
Memang, untuk mencapai kecerdasan atau pun kesuksesan, modal utama yang harus dimiliki adalah keberanian. Kalau tak ada keberanian, memanglah tak bisa didapat kemajuan, terutama dalam pengetahuan, kata Tan Malaka—dan nampaknya—hal itu diamini pula oleh Pramodya Ananta Toer, ia mengatakan, Barangsiapa tidak berani, dia tidak bakal menang; itulah semboyanku! Maju! Semua harus dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia! Sekarang, mari kita tengok para pahlawan kita: Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Yamin, Agus Salim, Kartini dan lain-lain, semuanya mempunyai keberanian, semuanya mempunyai mimpi yang besar, itu sebabnya mereka berhasil meraih kesuksesan yang selama itu mereka idamkan; sebuah kemerdekaan.

Gagal

Adalah Thomas Alfa Edison (1847-1931) Seorang jenius dan juga penemu bola lampu. Terang yang sekarang kita dapatkan dari bola lampu ternyata bukan hasil dari keisengan semata. Bagi Thomas, bola lampu yang ia ciptakan adalah butir-butir “keringat”nya yang menyala; adalah simbol kerja kerasnya yang berbuah keberhasilan. Selama penelitian dan percobaan, ia mengalami ribuan kali kegagalan. Lalu, apakah ia menyerah dan kalah? Ternyata, Thomas meneladani sifat balita. Balita, seperti telah kita ketahui bersama, memiliki sifat pantang menyerah ketika ia belajar berjalan; jatuh, menangis, lalu bangun dan berjalan lagi, begitu seterusnya sampai akhirnya sang balita bisa berjalan. Apa jadinya jika sang balita menyerah ketika ia terjatuh? Dapat dipastikan bahwa ia tidak akan bisa berjalan. Thomas pun demikian, ketika gagal ia terus mencoba sampai akhirnya ia berhasil.

Di dalam sebuah tindakan, pasti akan ada kegagalan. Ketika menghadapi kegagalan, jadilah seperti bola basket; semakin keras dibanting, maka akan semakin tinggi ia memantul. Semakin keras kegagalan “menampar” kita, harus semakin kuat keinginan kita untuk bangkit. Dalam dunia ilmu fisika, hal tersebut dijelaskan pada Hukum Gerak Newton ke Tiga, yang mana:

FAksi  = FReaksi 

Jika sebuah benda mengerjakan gaya terhadap benda lain, maka benda lain akan mengerjakan gaya yang sama besar dan berlawanan pada benda tersebut, kata Newton.

Pilihan selalu ada, menjadi sukses dengan cara berani bermimpi dan bertindak, atau justru sebaliknya, menjadi pecundang dengan cara berdiam diri dan menyerah. Pilihan selalu ada, ya… memang demikian adanya.

-Pantai Indah Kapuk, 2016.

Taufiq A Prayogo, Fisikawan, Pendongeng dan Pengurus Sepeda Pustaka PietBoekoe yang saat ini tinggal di Jakarta.

Leave a Reply

Languages