Warning: is_file() expects parameter 1 to be a valid path, string given in /srv/users/serverpilot/apps/oneindonesia/public/wp-content/plugins/sitepress-multilingual-cms/embedded/wpml/commons/src/wpml-auto-loader.php on line 121
Halo Para Ayah , Ternyata Anak Kita Gak Cuma Butuh Uang Susu Tiap Bulan Loh ! - One Indonesia - Bantuan Pendidikan di Indonesia

Halo Para Ayah , Ternyata Anak Kita Gak Cuma Butuh Uang Susu Tiap Bulan Loh !

By November 14, 2016Artikel
ayah-dan-anak

Saya sempat berbincang dengan teman yang usianya jauh lebih tua dan lebih sibuk dari saya. Tuntutan pekerjaan, mengharuskan dia sering bepergian ke luar kota. Mengurusi cabang dari perusahaan tempat dia bekerja, dan memastikan pergerakan bisnis di cabang-cabang tersebut berjalan lancar.

Memang, posisinya sangat bagus dan berpengaruh dikantor, tapi sayangnya , hal ini meminta lebih dari 80% dari waktu hidupnya , di dedikasikan untuk tempat dia bekerja, sehingga waktu bersama keluarga nyaris tidak ada, bahkan untuk sekedar bermain dengan anaknya pun bisa terbilang sangat jarang.

Suatu ketika, teman saya sempat curhat mengenai kehidupan keluarganya, terutama tentang hubungan dia dengan anaknya. Sang anak yang baru berumur 6 tahun, pernah suatu waktu , mengajaknya bermain lego bersama. Sang anak, memang suka sekali merakit robot dari bahan lego.

Anak : “Halo, Papah” Alid mau ngajakin papah main lego nanti malem, papah bisa kan ?
Papah : Oiya sayang, Insha Alloh bisa. Nanti papah usahain pulang cepet yahh..
Anak : Jangan sampe ngga jadi ya pah. Aku mau main lego yang baru dibeliin mamah tadi pagi.
Papah : Iya sayang…Insha Alloh ..udah dulu yah, papah mau meeting dulu, nanti papah telp Alid lagi yah..
Anak : Iya pah..dadahh..

Dasar memang teman saya ini super sibuk, dia lupa ternyata hari itu adalah hari Ulang tahun anaknya yang ke-6 , dan sang anak hanya minta waktu sedikit untuk bermain lego bersamanya.

Akhirnya temen saya ini pulang larut,waktu menunjukkan pukul 11 malam, lagi-lagi karena kesibukkan pekerjaannya menuntut waktu yang lebih banyak dari yang dia punya.

Tapi, sang anak ternyata masih menunggu temen saya ini pulang dari kantor. Begitu temen saya pulang, sang anak yang dari pagi sudah gak sabar ingin bermain bersama dan menunjukkan lego barunya itu, langsung mengajak papahnya ini main. Sontak, karena dalam kondisi capek bekerja seharian, teman saya ini marah dengan berkata “Nak ,kamu ngerti ga, papah ini baru pulang kerja dan capek. Kamu malah ngajak main ! “

Akhirnya dengan sangat sedih, anaknya langsung masuk kamar. Melihat hal itu, teman saya langsung menuju ke kamar anaknya. Dia sadar yang dilakukan tadi itu salah. Lalu mengobrol lah mereka berdua. Di obrolannya itu, papahnya menerangkan, kalo dia harus bekerja keras, agar bisa beli susu, bisa buat sekolah, beli mainan , jalan-jalan dan lain sebagainya.

Tapi ada pertanyaan yang cukup membuat sang papah bingung, “Pah, memang papah sehari bekerja dibayar berapa sama bos papah ? ”
Dengan agak bingung, teman saya menjawab, “papah, sehari dibayar 900 ribu nak”. Yuk kita tidur, sudah malam. Akhirnya mereka tidur.

Keesokan harinya, aktivitas berjalan lancar. Sang papah kembali dengan kesibukkannya bekerja dan sang anak lagi-lagi kesepian karena lagi-lagi gagal bisa bermain dengan papahnya di bulan itu.

Hingga pada bulan berikutnya, sang anak mengajak lagi papahnya untuk bermain lego bersama, kali ini sang anak minta jatah 1 hari full.

Sang anak masuk ke kamar papahnya pada malam hari, meminta papahnya untuk menemani dia bermain seharian dirumah besok.

Anak : Pah, besok Alid mau minta waktu papah sehariiii ajah. Alid mau papah nemenin alid main lego bersama.
Papah : Waduh, maaf sayang, papah besok mesti keluar kota, bos papah menyuruh papah keluar kota. Nanti kalo libur kita main yah.
Anak : Ini pah, Alid udah pecahin tabungan alid, kata mamah itu jumlahnya udah sampe 900 ribu (sambil menyodorkan uang receh 10 ribuan , 2 ribuan,dan 50 ribuan). Papah nanti bisa kasih uang ini ke bos papah, buat gantiin uang papah, karena Alid pinjem waktu papah besok 1 hari.

Sontak, kejadian itu membuat teman saya berlinang air mata, dan langsung memeluk anaknya yang merupakan anak satu-satunya. Tak terasa, saya pun larut dalam cerita teman saya, dan langsung teringat dengan ke-3 anak saya di rumah.

Cerita ini membuat pengalaman tersendiri bagi kami para ayah. Kami selalu berfikir, dengan bekerja keras banting tulang, tiap bulan bawa uang untuk di berikan ke keluarga kecil kami, susu terbeli, mainan baru terbeli, bisa ngajak mereka jalan-jalan, sudah sangat cukup. Sehingga, ketidakhadiran kami pada saat mereka bagi rapot sekolah, perlakuan kami yang jarang bisa mengantar anak-anak kami sekolah, atau bahkan rasa kangen mereka untuk sekedar bisa bermain bersama yang sering kami ingkari janjinya, teranulir dengan sendirinya setiap bulan, karena kami merasa sudah cukup dengan menggantikan itu semua dengan uang bulanan yang kami berikan untuk kebutuhan fisik mereka.

Tetapi, kami para ayah baru sadar, bahwa ada kebutuhan utama dari sang anak yang sangat mereka butuhkan selain sekedar uang susu bulanan, yaitu kebuutuhan akan kehadiran sosok ayah sebagai teman mereka bermain, juga kebutuhan sosok ayah untuk tempat curhat mereka dikala hari itu mereka dapat perlakuan kasar dari teman-temannya.

Bahkan Universitas Oxford pernah melakukan penelitian terhadap 17.000 anak sekolah di Inggris, mereka menyimpulkan hal yang sama mengenai keterlibatan paternalistik dengan kesuksesan akademis. Mereka menambahkan, bahwa seorang ayah yang terlibat dalam proses pengasuhan anak bersama dengan istri, menjadikan anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, bertanggung jawab, namun tetap santun dan lemah lembut. Bahkan dari segi akademis, cenderung memiliki nilai yang lebih baik dari teman-temannya yang kurang kasih sayang dari sang ayah.

Karena lewat sosok ayah, sang anak mewarisi jiwa pemberani, bertanggung jawab, realistis dan mudah bergaul dengan dunia luar, ditambah sosok ibu, seorang anak tumbuh menjadi pribadi yang lembut dan peka juga berjiwa sosial.

Jadi, jika ayah dan ibu selalu terlibat dalam proses pengasuhan anak dengan porsi yang pas, bisa dipastikan, anak kita akan tumbuh menjadi pribadi yang sempurna.

So,sudah siapkah anda para ayah untuk mulai terlibat dalam proses pengasuhan anak anda dan selalu hadir saat anak anda butuhkan ?

Selamat hari Ayah untuk kita semua !

Kontributor :

Dhony Raka (Mas Raka ) : Blogger sekaligus Konsultan Digital Marketing

My website : masraka.websit & dmlabs.id

Leave a Reply

Languages