Pustaka Yang Tak Pernah Lelah Bergerak

whatsapp-image-2016-09-17-at-12-24-47
“Jika kita membuka hati untuk buku, maka buku akan membuka isinya untuk kita.”
-Taufiq Rahzen

Adalah Baros Karls von Sauerbronn (1785-1851), yang dianggap sebagai penemu, atau paling tidak, peletak dasar teknologi sepeda pertama kali. Pada awalnya, bentuknya tidak seperti yang sekarang, sepeda mempunyai tiga roda dan tanpa pedal. Sauerbronn, menamainya Draisienne. Sebuah nama awal bagi sepeda.

Seiring berjalannya waktu, bentuk sepeda mengalami perubahan. Sepeda beroda dua dianggap lebih praktis. Akan tetapi, sepeda dengan dua roda rawan terjatuh. Dan untuk membuat sepeda tidak terjatuh ketika dikendarai, ia harus terus bergerak, terus melaju, dan roda harus terus berputar. Tampaknya, hal itu senada dengan asas kehidupan “life is like riding a bicycle, to keep your balance, you must keep moving” (Hidup itu seperti mengendarai sepeda, agar tetap seimbang, Anda harus terus bergerak). Setidaknya, begitulah kata Eisntein.

Dalam ilmu sains, bergerak adalah salah satu syarat hidup. Sesuatu yang mati, tidak akan bergerak kecuali ada gaya yang bekerja untuk mengubahnya. “Corpus omne perseverare in statu suo quiescendi vel movendi uniformiten in directum, nisi quatenus a viribus impressis cogitur statum illum mutare”. Setiap benda, kata Newton, akan mempertahankan keadaan diam atau bergerak lurus beraturan, kecuali ada gaya yang bekerja untuk mengubahnya.

Membaca, dewasa ini menjadi ritual yang sangat jarang dijalankan, baik itu oleh kalangan muda maupun tua. Khususnya di daerah luar Jawa. Bukan karena minat baca yang rendah seperti yang dikatakan oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Curtural Organization), suatu organisasi PBB yang megurusi masalah pendidikan, keilmuan dan kebudayaan.

Ritual baca buku jarang dijalankan karena akses untuk mendapatkan buku yang sangat terbatas. Dalam setiap kabupaten di Indonesia, jarang sekali ada perpustakaan layak kunjung; buku lengkap dan  ruangan nyaman. Apalagi harga buku yang cukup mahal, membuat masyarakat enggan membelinya. Dan jika masalah ini terus dibiarkan berlarut-larut, terciptalah apa yang dinamakan snowball effect (efek bola salju) yang akan kian membesar sering dengan berlajunya waktu.

Pietboekoe2Pietboekoe1

Atas dasar itulah, Taufiq A Prayogo mengoperasikan Pietboekoe. Sebuah pustaka bergerak yang beroperasi menggunakan sepeda, di Kabupaten Karawang. Sesuai dengan namanya, Pietboekoe berarti sepeda yang membawa buku.

Visi Pietboekoe selaras dengan pemikiran Newton dan Einstein, yang menyatakan keharusan untuk terus bergerak bagi sesuatu yang tidak mati. Pietboekoe bergerak mendatangi para pembaca. Pengelola Sepeda Pustaka Pietboekoe yakin, budaya baca belum mati di Karawang dan Indonesia.

Pietboekoe beroperasi seminggu sekali, tepatnya pada hari minggu pagi. Untuk sekali bergerak, Pietboekoe dapat menempuh jarak puluhan kilometer. Lokasi yang didatanginya beragam, mulai dari keramaian tempat berlangsungnya acara Car Free Day, di lapangan Karangpawitan, rumah-rumah warga, sampai panti asuhan dan panti jompo. Kegiatan yang dilakukannya bukan sekadar membawa buku untuk bisa dibaca secara gratis oleh warga. Namun, Pietboekoe juga mengadakan bimbingan belajar berbahasa Inggris, berhitung, dan mendongeng secara sukarela.

“Bagaimana respon warga dengan kehadiran Sepeda Pustaka Pietboekoe?” mungkin pertanyaan itu yang membuat Anda penasaran.

Setidaknya, pendapat UNESCO yang menyatakan minat baca masyarakat Indonesia rendah, perlu dikoreksi lebih jauh. Begitulah yang terjadi di Karawang. Jika UNESCO menyatakan minat baca kita rendah, apakah mungkin anak-anak kita di Karawang menangis ketika Pietboekoe hendak pulang karena hari sudah semakin sore? Apakah minat baca yang rendah ditandai dengan peristiwa jatuhnya seorang ibu paruh baya ketika berlari karena mengetahui Pietboekoe datang ke daerahnya dan khawatir ia tidak kebagian bahan bacaan? Sekali lagi, Apakah minat baca yang rendah ditandai dengan peristiwa patungannya warga Desa Citeureup, Karawang untuk membeli buah-buahan ketika mengetahui pengelola Pietboekoe jatuh sakit dan mereka mendoakan supaya lekas sembuh supaya bisa kembali meminjamkan bahan bacaan?

Sikap apatis tidak tampak pada mereka. Sebaliknya, mereka kerap mengirim pesan singkat untuk sekedar menanyakan kapan Pietboekoe akan kembali atau menanyakan tentang koleksi buku terbaru.

Ada yang mengatakan bahwa surga itu adalah kumpulan buku. Memang tidak salah, namun surga itu akan lebih sempurna jika di dalamnya ada manusia dari beragam usia dan kalangan bisa merasakan nikmatnya buku-buku tersebut.

 

Leave a Reply