Siswa-siswi SMPN 3 Tanjung asyik membaca buku dari Perpustakaan Keliling YABN

Seorang siswa mengerjap-ngerjapkan matanya. Tampak bingung sebentar lalu berseru, “suku Asmat” sambil tersenyum bangga seolah jawabannya tepat. Si penanya mengerutkan dahi. Bagaimana bisa siswa kelas 5 SD di salah satu desa di Kalimantan ini bahkan tidak tahu bahwa suku asli penduduk Kalimantan salah satunya adalah suku Dayak. Padahal desa tempat tinggalnya terhitung bertetangga dengan kampung masyarakat adat Dayak. Bisa ditebak, pertanyaan-pertanyaan selanjutnya dijawab makin jauh dari harapan.

Di desa lain, Eva tersenyum lebar. Matanya berbinar, secerah senyumnya. Mobil besar yang ditunggu-tunggu perlahan berbelok, memasuki halaman sekolah. Senyum yang dimiliki Eva juga tampak pada wajah-wajah polos teman-temannya. Kejenuhan belajar di ruang kelas akan segera berganti kesenangan. “Saya senang mobil Perpustakaan Keliling datang, karena banyak buku-buku yang dapat dibaca, buku ceritanya bagus dan menarik”, Eva riang bertutur. Tak sabar gadis cilik siswa SD Warukin ini menunggu Pak Sigit, sang pustakawan, segera turun dari mobil dan membuka jendela serta pintu hingga tampak bahan-bahan bacaan yang mewarnai hari-harinya.

Puluhan anak kecil sudah berlarian mendahului Eva.

“Buku yang kemarin sudah ada?”

“Horeee buku baru lagi!”

“Ini aku yang pinjam, kamu yang itu aja!”

“Boleh pinjam 3, pak?”

Celoteh polos anak-anak berbalut seragam merah putih ramai tak terbendung. Pak Sigit dengan sabar meminta mereka tertib, meyakinkan bahwa semua akan dilayani dengan baik.

Pemandangan serupa juga muncul saat perpustakaan keliling ini mengunjungi SDN Maburai. Memed, siswa kelas 4 di sekolah ini adalah salah satu pengunjung setia. Saat itu, buku Ensiklopedia Hewan menjadi pilihannya. Sambil membolak balik buku, bocah kecil ini bercengkrama dengan pa Bambang, pustakawan lainnya. “Pak, pernah liat dinosaurus? Seberapa besar ya dinosaurus itu?”, Memed bertanya tanpa mengangkat wajah dari buku yang menyita seluruh perhatiannya.

Eva, Memed dan teman-temannya adalah sebagian kecil dari 50.427 anak berusia 7 – 18 tahun yang merupakan 22% dari total penduduk Kabupaten Tabalong. Kabupaten paling utara di Kalimantan Selatan. Antusiasme yang ditunjukan Eva dan teman-temannya wajar adanya. Bukan perkara mudah untuk mendapatkan bahan bacaan yang baik di desanya. Bahkan di ibukota kabupaten belum ada toko buku yang menyediakan pilihan memadai. Jika mau, Eva dan Memed harus menempuh jarak tak kurang dari 265 km ke kota Banjarmasin agar bisa mengunjungi toko buku. Lokasi yang menawarkan layanan membaca buku terdekat adalah Perpustakaan Daerah dan Perpustakaan Adaro, namun tak mungkin bagi mereka mengunjunginya tanpa diantar orang tua.

Kondisi yang dimiliki Eva dan Memed juga tak berbeda jauh dengan anak-anak di sekolah dasar dan menengah pertama lainnya di kabupaten Tabalong maupun Barito Timur. Ahmad Maidi, Guru SMPN 3 Tanjung mengungkapkan “para siswa di sini dulunya kesulitan mendapatkan bahan pustaka yang dibutuhkannya baik untuk menunjang kegiatan pembelajaran maupun untuk bahan bacaan, maka dengan adanya Perpustakaan Keliling, ini sangat membantu dan minat baca siswa semakin meningkat sehingga secara otomatis dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para siswa”.

Komitmen mengoperasikan Perpustakaan Keliling untuk meningkatkan kemampuan literasi dan menumbuhkan kembali budaya perpustakaan sebagai pusat pembelajaran serta membangun budaya membaca sejak usia dini telah dijalankan Adaro sejak 10 tahun lalu. Diawali oleh CSR PT Adaro Indonesia, yang kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Adaro Bangun Negeri (YABN) sejak tahun 2010. Secara total sudah lebih dari 60 sekolah dan ribuan siswa di Kabupaten Tabalong dan Barito Timur yang mendapatkan layanan ini. Pada umumnya sekolah-sekolah ini berada di wilayah pedesaan dengan keterbatasan akses kepada bahan bacaan, baik karena lokasi yang jauh dari perpustakaan daerah dan lainnya, maupun karena sekolah sendiri tidak menyediakan perpustakaan yang memadai.

Jpeg

Agar Perpustakaan Keliling YABN semakin diminati khususnya bagi anak-anak tingkat Sekolah Dasar dan pembiasaan membaca sejak usia dini dapat diterapkan, para Pustakawan Adaro mengadakan berbagai kegiatan kreatif seperti bercerita (dongeng) di sela-sela kunjungan, melakukan kuis berupa pertanyaan tentang isi buku yang telah mereka baca, dan memberikan hadiah kecil untuk jawaban yang benar. Siswa yang berkunjung juga berminat dengan aktivitas membuat kerajinan tangan seperti membuat origami yang dilakukan di Perpustakaan Keliling.

Menyadari literasi tidak terbatas kepada kemampuan membaca dan memahami isinya, Adaro mengembangkan upaya ini dengan memfasilitasi siswa-siswa SD, SMP, dan SMA untuk menulis fiksi. Penulis fiksi terkenal, Gola Gong dan istrinya Tyas Tatanka kerap mengunjungi Tabalong dan berbagi dengan anak-anak pemilik bakat terpendam. Bagi Gong dan Tyas, tulisan anak-anak di daerah ini begitu alami, ide-idenya menarik dan orisinal, mereka hanya memerlukan pengetahuan dan keterampilan menulis yang lebih baik.

Kini, perpustakaan Adaro tidak lagi hanya ruangan dengan jejeran buku yang disusun rapi, atau mobil besar yang berkeliling mengunjungi anak-anak bangsa di berbagai sekolah. Berbagai kegiatan literasi digiatkan. Di sore hari, akan dapat ditemui anak-anak sedang asyik menikmati permainan sains. Di ruang lainnya, tampak beberapa anak belajar menggunakan komputer untuk belajar sambil bermain, ataupun meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi informasi. Literasi di bidang seni pun tak ditinggalkan. Secara rutin sekelompok anak belajar menggambar dan mewarna dengan penuh kegembiraan, demikian pula halnya dengan seni musik menggunakan alat musik yang tersedia.

Jika pilihan untuk membangun negeri kian beragam. Maka Adaro tetap berpegang kepada komitmen ini. Negeri kita masih memiliki tingkat literasi yang rendah. Negeri ini masih dengan minat membaca terbawah. Maka tak perlu banyak berwacana, kita harus terus semangat menyebarkan energi positif dari aktivitas membaca.

Mari Bersama Membangun Negeri Lewat Aksara!!!

Languages