In Kris Corner Blog

Percakapan di seberang meja yang sempat saya dengar siang ini adalah kurang lebih demikian:
A : Seumur-umur beli makanan di sini, baru kali ini rasanya aneh seperti ini.
B : Iya, rasanya tidak seperti biasanya. Apa mungkin ganti koki ya?
A : Mungkin juga. Kalau begitu, lain kali tidak usah kesini lagi.
B : Iya. Apalagi ada tempat baru yang sepertinya menarik untuk dicoba.
A : Betul. Besok kita coba kesana saja. Yang ini sudah tidak enak.
B : Iya.

Restoran itu baru saja kehilangan 2 orang pelanggannya hanya karena kali itu rasa masakannya tidak sama.
Apakah hal seperti ini adalah hal yang luar biasa? Tidak. Pelanggan bisa berpindah untuk alasan yang lebih sederhana lagi.
Ada yang berpindah hanya karena restoran sejenis, ruangannya lebih instagramable.

Kalau jaman dulu ada ungkapan “Pembeli adalah Raja”, jaman sekarang sepertinya lebih tepat kalau “Pelanggan adalah Raja”.
Pembeli artinya dia baru saja membeli, belum terbukti setia melakukan pembelian ulang. Sementara pelanggan artinya dia sudah melakukan pembelian berulang.
Membuat “pembeli” menjadi “pelanggan” itu sudah cukup susah. Menjamin kesetiaan pelanggan itu adalah satu tingkat di atas susah.
Pembeli mungkin masih belum bisa mempengaruhi teman-temannya untuk menjadi pembeli juga. Tetapi kata-kata pelanggan pasti diperhitungkan teman-temannya ketika membeli sesuatu.
Apalagi di era media sosial sekarang ini. Satu kekecewaan pelanggan di Jakarta bisa terdengar oleh pelanggan lain di Makasar.
Tugas perusahaan semakin berat dalam mempertahankan pelanggannya, disamping mencari pelanggan baru.

Hari ini dicanangkan menjadi Hari Pelanggan Nasional. Gagasan Hari Pelanggan Nasional ini dilontarkan oleh Handi Irawan tahun 2003 dan langsung didukung oleh banyak pihak. Para penjual, apapun statusnya; perusahaan besar, perusahaan kecil, perusahaan BUMN, perusahaan swasta, toko tradisional, toko online; tentu harus mengerti bahwa penjual tidak lagi berada di atas pelanggan. Penjual harus bisa memahami pelanggannya supaya bisa terus bertahan.

Dan salah satu mempertahankan pelanggan adalah menciptakan hubungan dengan pelanggan. Perusahaan, apalagi perusahaan jasa, dituntut untuk bisa membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan pelanggannya, baik melalui dunia maya, maupun dunia nyata (baca: kehidupan sehari-hari). Banyak kegiatan digelar untuk memberikan kepuasan lebih untuk para pelanggannya.
Mulai dari acara Car Free Day yang sudah mulai banyak di kota-kota besar di Indonesia, pelatihan untuk Customer Service supaya lebih mumpuni ketika menjawab pertanyaan pelanggan, sampai penggunaan media sosial untuk mengakomodasi eksistensi pelanggan di dunia maya.

Mungkin terdengar aneh, tetapi ada 1 tempat makan di Surabaya yang selalu saya suka datangi. Selain makanannya enak, tukang parkir-nya jagoan. Dia selalu bisa mengarahkan parkir dengan tepat. Sejak saya baru belajar mengemudi sampai hari ini, dia selalu tepat mengarahkan. Saya bahkan bisa dengan mata tertutup memarkir mobil apabila datang ke tempat makan itu. Tempat makan itu selalu penuh, mobil diparkir pararel, dan kadang jaraknya berdekatan. Tapi Bapak Parkir ini selalu tepat. Di lain pihak, saya malas makan di suatu tempat karena tukang parkirnya ajaib: waktu susah parkir dia tidak terlihat, giliran sudah jalan, tiba-tiba dia muncul menagih uang parkir. Kalau saja tidak terpaksa (datang karena memenuhi undangan), saya tidak akan kesana lagi. Tempat makan seperti ini, mungkin tidak bertahan lama kalau masakannya tidak istimewa.

Semoga setiap pengusaha terinspirasi untuk senantiasa mengembangkan hubungan baik dengan pelanggannya. Selamat Hari Pelanggan Nasional!

Recent Posts

Leave a Comment

Percakapan di seberang meja yang sempat saya dengar siang ini adalah kurang lebih demikian:
A : Seumur-umur beli makanan di sini, baru kali ini rasanya aneh seperti ini.
B : Iya, rasanya tidak seperti biasanya. Apa mungkin ganti koki ya?
A : Mungkin juga. Kalau begitu, lain kali tidak usah kesini lagi.
B : Iya. Apalagi ada tempat baru yang sepertinya menarik untuk dicoba.
A : Betul. Besok kita coba kesana saja. Yang ini sudah tidak enak.
B : Iya.

Restoran itu baru saja kehilangan 2 orang pelanggannya hanya karena kali itu rasa masakannya tidak sama.
Apakah hal seperti ini adalah hal yang luar biasa? Tidak. Pelanggan bisa berpindah untuk alasan yang lebih sederhana lagi.
Ada yang berpindah hanya karena restoran sejenis, ruangannya lebih instagramable.

Kalau jaman dulu ada ungkapan “Pembeli adalah Raja”, jaman sekarang sepertinya lebih tepat kalau “Pelanggan adalah Raja”.
Pembeli artinya dia baru saja membeli, belum terbukti setia melakukan pembelian ulang. Sementara pelanggan artinya dia sudah melakukan pembelian berulang.
Membuat “pembeli” menjadi “pelanggan” itu sudah cukup susah. Menjamin kesetiaan pelanggan itu adalah satu tingkat di atas susah.
Pembeli mungkin masih belum bisa mempengaruhi teman-temannya untuk menjadi pembeli juga. Tetapi kata-kata pelanggan pasti diperhitungkan teman-temannya ketika membeli sesuatu.
Apalagi di era media sosial sekarang ini. Satu kekecewaan pelanggan di Jakarta bisa terdengar oleh pelanggan lain di Makasar.
Tugas perusahaan semakin berat dalam mempertahankan pelanggannya, disamping mencari pelanggan baru.

Hari ini dicanangkan menjadi Hari Pelanggan Nasional. Gagasan Hari Pelanggan Nasional ini dilontarkan oleh Handi Irawan tahun 2003 dan langsung didukung oleh banyak pihak. Para penjual, apapun statusnya; perusahaan besar, perusahaan kecil, perusahaan BUMN, perusahaan swasta, toko tradisional, toko online; tentu harus mengerti bahwa penjual tidak lagi berada di atas pelanggan. Penjual harus bisa memahami pelanggannya supaya bisa terus bertahan.

Dan salah satu mempertahankan pelanggan adalah menciptakan hubungan dengan pelanggan. Perusahaan, apalagi perusahaan jasa, dituntut untuk bisa membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan pelanggannya, baik melalui dunia maya, maupun dunia nyata (baca: kehidupan sehari-hari). Banyak kegiatan digelar untuk memberikan kepuasan lebih untuk para pelanggannya.
Mulai dari acara Car Free Day yang sudah mulai banyak di kota-kota besar di Indonesia, pelatihan untuk Customer Service supaya lebih mumpuni ketika menjawab pertanyaan pelanggan, sampai penggunaan media sosial untuk mengakomodasi eksistensi pelanggan di dunia maya.

Mungkin terdengar aneh, tetapi ada 1 tempat makan di Surabaya yang selalu saya suka datangi. Selain makanannya enak, tukang parkir-nya jagoan. Dia selalu bisa mengarahkan parkir dengan tepat. Sejak saya baru belajar mengemudi sampai hari ini, dia selalu tepat mengarahkan. Saya bahkan bisa dengan mata tertutup memarkir mobil apabila datang ke tempat makan itu. Tempat makan itu selalu penuh, mobil diparkir pararel, dan kadang jaraknya berdekatan. Tapi Bapak Parkir ini selalu tepat. Di lain pihak, saya malas makan di suatu tempat karena tukang parkirnya ajaib: waktu susah parkir dia tidak terlihat, giliran sudah jalan, tiba-tiba dia muncul menagih uang parkir. Kalau saja tidak terpaksa (datang karena memenuhi undangan), saya tidak akan kesana lagi. Tempat makan seperti ini, mungkin tidak bertahan lama kalau masakannya tidak istimewa.

Semoga setiap pengusaha terinspirasi untuk senantiasa mengembangkan hubungan baik dengan pelanggannya. Selamat Hari Pelanggan Nasional!

Recent Posts

Fatal error: Cannot redeclare list_pings() (previously declared in /srv/users/serverpilot/apps/newoneindo/public/wp-content/themes/jupiter/comments.php:40) in /srv/users/serverpilot/apps/newoneindo/public/wp-content/themes/jupiter/comments.php on line 40