Berbagi Buku – Berbagi Ilmu

foto-anak-anak-membaca-di-ntt

Saat ini mungkin kita gelisah mengetahui fakta bahwa Indonesia berada dalam peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca (Studi “Most Littered Nation In the World” oleh Central Connecticut State Univesity /Maret 2016  – dimuat dalam http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/29/07175131/minat.baca.indonesia.ada.di.urutan.ke-60.dunia). Namun kita tidak boleh hanya berhenti di kegelisahan semata, ada yang bisa kita lakukan dengan kondisi ini.

Dari kecil, saya memang suka membaca dan dalam benak saya, harta yang saya punya adalah buku walaupun saya belum bisa melakukan perjalanan jauh untuk berlibur, buku bisa membantu saya berimajinasi serta meluaskan wawasan saya. Buat saya, buku adalah wadah dimana seorang anak bisa berimajinasi dan bermimpi untuk masa depannya.

Tahun 2006, saya berkesempatan untuk bekerja di Flores Timur, NTT. Saya diberi tempat tinggal di Larantuka, ibukota kabupaten. Di sana toko terbatas dan biasanya kalau mau buku cerita/ majalah, saya  harus pergi ke Maumere, kota yang berada 4 jam dari Larantuka. Di kotanya saja sudah seperti itu, apalagi di desa-desanya. Membaca tentunya bukan menjadi prioritas bahkan mungkin dijadikan pilihan saja tidak.

Dalam kondisi seperti itu, ada seseorang yang menjadi inspirasi saya untuk bisa berbagi. John Wood, pengarang dari buku “Leaving Microsoft to Change the World“, adalah pendiri “Room To Read“, sebuah gerakan yang mengupayakan untuk membuka perpustakaan di daerah-daerah sulit sehingga setiap anak memiliki ruang untuk membaca. Gerakan ini dimulai dengan sederhana sekali. John Wood memulainya saat punya kegelisahan melihat perpustakaan yang dimiliki sekolah di Nepal saat dia berlibur. Dari situ, John mencoba untuk mengajak teman-temannya mengirim buku bacaan anak yang bisa didonasikan untuk anak-anak di Nepal dan sejak itulah gerakan “Room to read” dimulai.

buku-john-wood

Saya terpikir untuk melakukan seperti yang John Wood lakukan, saya mengirimkan email kepada teman-teman saya di Jakarta dan berjanji kepada mereka semua donasi buku yang diterima akan saya ambil ketika saya berkesempatan pulang ke Jakarta. Saat itu saya belum bisa mengharapkan bantuan dari media sosial, maklumlah karena yang aktif  kala itu hanya sosial media Friendster 🙂

Sambutannya baik sekali dari teman-teman saya sehingga lumayan banyak buku yang dikirimkan ke rumah. Pas saya ke jakarta, saya memilah buku dan mengirimkan via pos ke sana. Setelah sampai di Flores, saya mulai bergerak ke sekolah-sekolah di desa tempat saya bekerja dan mengajak para guru untuk mendorong anak-anak rajin membaca dengan buku-buku yang lebih cocok untuk usia mereka.

Sejak saat itu, saya belajar selama kita ada niat, kita pasti menemukan jalan dan solusinya. Ketika saya menemukan keseruan berbagi buku, sepertinya tidak ingin berhenti. Saya terus melakukan gerakan-gerakan mengumpulkan buku dan dalam perjalanannya selalu menemukan rekan-rekan yang siap bekerja di daerah untuk mendorong anak-anak untuk terus mau membaca. Cerita-cerita menggugah tentang rasa penasaran anak-anak ketika melihat buku bacaan yang baru terus memberi semangat seperti contoh foto di atas, adik-adik sedang membaca di taman bacaan di NTT.

Jadi, apakah teman-teman punya buku-buku bacaan yang bisa didonasikan? ONE Indonesia telah menjadi  wadah perpanjangan tangan bagi saya dan teman-teman, membantu menyalurkannya kepada anak-anak yang membutuhkan. Memberikan harta terindah, berbagi ilmu lewat buku kita.

Lebih lanjut mengenai penyaluran buku dari ONE Indonesia lihat di sini

Leave a Reply