Keluarga adalah pendidik utama sang anak.

By August 1, 2016Artikel

Siapa sih yang tidak ingin anaknya jadi orang sukses. Berprestasi gemilang di sekolahnya, mandiri dalam hidupnya, dan menjadi kebanggaan buat kedua orang tuanya bahkan bagi bangsa dan Negara nya.

Terus, apa saja yang sudah kita lakukan untuk mencapai impian itu ???

Ternyata mengirim anak-anak kita ke sekolah-sekolah terbaik saja tidak cukup loh, atau kita padati hari-hari nya dengan sederet les-les tambahan ini itu untuk mengembangkan minat dan bakatnya juga bukan jaminan utama , yang kelak bisa menjadikan anak kita , menjadi anak yang sukses nan hebat.

Banyak loh, contoh-contoh diluar sana, anak nya bisa sukses luar biasa hanya bermodal “Keyakinan dan Kegigihan sang Ibu” dalam mendidik. Sebut saja, Bacharuddin Jusuf Habibie, mantan Presiden kita, melalui perjuangan luar biasa sang ibu – Tuti Marini , sebagai seorang Single Parent, Ibu sekaligus Ayah bagi anak-anaknya,dimana selain harus mengurus ke Sembilan anaknya seorang diri, Tuti harus memutar otak, bekerja mati-matian untuk tetap dapat mencukupi kebutuhan mereka. Ditengah kesibukannya mencari nafkah, Tuti masih sempat mendampingi anak-anaknya belajar, bahkan memberikan contoh yang baik dan memotivasi terus anak-anaknya untuk menjadi orang sukses dan berguna.

Keyakinan Tuti sebagai seorang ibu yang berhasil menjadikan  salah satu anaknya menjadi orang hebat di Indonesia bahkan di dunia. Sempat ketika Habibie masih kuliah di Jerman, ada orang yang bertanya, “Habibie disana belajar membuat pesawat terbang ya ?”. Tapi Tuti langsung menjawab dengan mantap, “Bukan, Habibie disana belajar untuk bikin pabrik pesawat terbang”.

Mampukah kita sebagai orang tua, ketika dihadapkan dalam keterbatasan ekonomi, masih mampu memiliki mimpi yang tinggi untuk anak-anak kita ??

Dan tahukah  anda, bahwa Keluarga itu Madrasah/Sekolah pertama bagi anak kita loh. Pendidikan dalam keluarga sangat efektif dan strategis untuk menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan, emosional, keadilan, dan nilai-nilai lainnya. Karena orang tua merupakan pendidik pertama dan utama dalam pendidikan keluarga. Orang tua juga punya peran yang sangat penting dalam memberikan rangsangan terhadap perkembangan anak di lingkungan keluarga. Namun, terkadang hal ini kurang dipahami oleh orang tua dan masyarakat yang menganggap bahwa pendidikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah dan lembaga.

Selain ibu, ayah pun harus turun tangan terlibat dalam pola pendidikan anak-anak di keluarga. Anak-anak yang memiliki sosok ayah di sisinya akan lebih merasa terlindungi dari bahaya sehingga memiliki sifat lebih pemberani. Seorang ayah memiliki ketegasan yang lebih besar dibanding seorang ibu, karena itu peran ayah sangat besar dalam menghasilkan anak-anak yang disiplin.

Setidaknya, ada 3 kebutuhan dasar anak yang wajib dipenuhi dari keluarga : Asah, Asih dan Asuh.

Kebutuhan fisik-biomedis(ASUH)

Meliputi : Gizi, Perawatan dasar, Sandang, papan, Rekreasi

Kebutuhan emosi/kasih sayang (ASIH)

Akan menciptakan ikatan yang erat dan kepercayaan

Kebutuhan akan stimulasi mental (ASAH)

Cikal bakal proses belajar, mengembangkan proses mental psikososial: kecerdasan,keterampilan, agama dan  moral.

Lalu ada 4 pola pengasuhan anak, yang menentukan anak kita akan menjadi apa kelak.

  1. Pola asuh Otoriter (Diktator)
  • kaku, diktator, memaksa anak untuk mengikuti perintah orang tua
  • ada hukuman fisik dan aturan tanpa penjelasan
  • Hasil : anak akan kurang inisiatif, kurang kreativitas dan komunikasi
  1. Pola asuh Permisive (Indulgent)
  • serba boleh, tidak ada tuntutan & kontrol dari orang tua terhadap anak
  • Hasil : tidak belajar mengontrol diri, kurang kendali diri / tanggung jawab
  1. Pola asuh Neglectful
  • tidak dipedulikan, diterlantarkan
  • Hasil : kemampuan anak rendah
  1. 4. Pola asuh Authoritative (Demokratis)
  • diberi conroh, dihargai, didorong, dibantu, penuh kasih sayang
  • diberikan koreksi (bukan hukuman) agar anak menjadi mandiri
  • Hasil : anak lebih percaya diri, mandiri, kreatif

 

Jadi, masih mau cari alasan sibuk kerja untuk melepaskan sepenuhnya anak kita di didik oleh sekolah dan tempat les mereka ?

Masa depan anak kita tergantung bagaimana kita mendidik mereka di keluarga, bukan semata-mata dari mana mereka lulus dan kursus !

Leave a Reply