GURU, RIWAYATMU KINI…

By August 12, 2016Pojok Kris

Siang itu, saya bingung bagaimana bilang ke Ibu saya, bahwa besok saya harus membawa 1 kg mangga ke sekolah. Mangga itu bukan untuk tugas pelajaran memasak. Mangga itu juga bukan untuk acara makan-makan di sekolah. Mangga itu adalah hukuman bagi saya dan 2 orang teman saya karena kami tertidur di kelas dan makan kacang saat pelajaran sedang berlangsung. Saat kami bertiga “tertangkap”, alasan yang keluar adalah karena mengantuk dan bosan. Maka Guru Walikelas kami menugaskan kami mencari masing-masing 1 kg mangga untuk dimakan di ruang guru keesokan harinya pada jam pelajaran berlangsung supaya tidak mengantuk.
Dengan takut-takut, saya bilang ke Ibu saya soal mangga itu. Saya berharap bahwa beliau tidak bertanya alasannya, tetapi tentu saja itu tidak mungkin.
Apakah saat itu saya berharap dibela? Apakah saya berharap bahwa Ibu saya akan marah pada Walikelas saya karena menugaskan saya membeli mangga? Tidak terlintas sedikitpun dipikiran saya! Yang ada saya ketakutan membayangkan bahwa akan ada hukuman tambahan.
Betul saja. Uang membeli mangga dipotong dari uang jajan saya dan tidak ada lagi nonton TV lebih dari jam 8 malam selama 1 bulan penuh. Padahal saat itu cerita silat favorit saya tayang jam 10 malam.
Apakah Ibu saya marah kepada Walikelas saya? Beliau malah berterima kasih karena Walikelas sudah memberi hukuman ke saya.

20 tahun lebih sudah berlalu sejak peristiwa itu. Betul, jaman sudah berubah. Hubungan antara guru dan murid juga sudah berubah.
Takut pada Guru seharusnya sudah tidak terjadi lagi. Rasa hormat-lah yang seharusnya terbentuk. Hormat karena Guru adalah “pengganti” orang tua di sekolah. Hormat karena Guru yang akan membagi ilmu pengetahuannya supaya anak didik mempunyai bekal untuk masa depannya. Hormat karena Guru punya bagian dalam membentuk karakter.
Di lain pihak, Guru seharusnya juga sayang pada anak didiknya. Sayang karena mereka adalah “anak-anak yang dititipkan” untuk dibentuk karakter dan diisi sebanyak mungkin ilmu pengetahuan.
Dan tentu saja, Orang Tua seharusnya menghargai, bekerja sama, dan menghormati Guru. Menghargai Guru karena Orang Tua”menitipkan” anak-anaknya untuk dididik oleh Guru. Bekerja sama dengan Guru, karena Orang Tua berbagi dengan Guru untuk mendidik anak-anak mereka. Menghormati Guru, karena tidak mudah bagi Guru untuk mendidik anak-anak yang berbeda-beda karakter dan isi kepalanya.
Serta pemerintah, yang juga harus turut serta sebagai “penengah yang adil” antara orang tua, guru, dan anak didik.

One Comment

Leave a Reply