In Pojok Kris

Ketika wacana ini pertama kali dilempar ke publik, saya hanya bisa tertawa. Sepertinya Pak Menteri sedang bercanda atau jangan-jangan ini gosip yang dilempar supaya semua orang memperhatikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru. Tetapi ketika keesokan harinya ternyata ada berita tambahan bahwa sepertinya RI 2 menyetujui hal itu, maka saya sebagai orang tua mulai memperhatikan. Betul saja, tidak lama, media sosial langsung heboh. Semua berkomentar. Termasuk saya.

Siangnya, sepulang anak saya dari sekolah, saya bertanya ke dia: “Kalau kamu seharian di sekolah, kamu mau?”
Dia terdiam.
“Belajar seharian, Ma?”
“Iya.”
“Makan siangnya gimana? Tidur siangnya gimana? Balet dan mainannya kapan?”
Saya menjawab, “Ya semua dilakukan di sekolah. Menurutmu gimana kalau semua dilakukan di sekolah?”
“PR-nya? Belajar kalau ada ulangannya?”
“Ya semua dilakukan seharian itu. Pulang ke rumah sudah beres semua, tinggal mandi, makan malam terus main atau nonton TV sama Mama.”
Dia terdiam lagi.
“Kalau masuknya jam 9, terus ada waktu untuk makan siang, tidur siang, bisa menonton, bermain, dan tidur siang bersama, dan pulang tinggal main, tidak ada PR lagi, aku mau Ma.”
Ini jawaban anak kelas 4 SD.

Mari kita bahas.
1. Masuk jam 9 pagi sampai jam 5 sore.
Jadi bukan masuk jam 7 sampai jam 5 sore. Sisi baiknya, anak mendapatkan waktu tidur yang cukup (baca: anak tidak harus bangun pagi buta). Tapi, apakah ini berlaku di seluruh Indonesia? Saya rasa tidak. Mungkin anak bangun pagi buta hanya di Jakarta (karena jalan menuju sekolah biasanya macet) atau di pedalaman yang jarak sekolah rumah bisa mencapai puluhan kilometer dengan medan yang berat.
Masuk sekolah bisa sambil diantar orang tua menuju tempat kerja dan pulang dijemput sepulang orang tua dari tempat kerja. Apa betul begitu? Kebalikan yang tadi, ini justru tidak berlaku di Jakarta dan pedalaman. Sebab, orang tua bekerja akan berangkat lebih pagi dan pulang lebih dari jam itu.

2. Ada waktu untuk makan siang.
Apakah sekolah siap menyediakan makan siang yang memenuhi syarat? Atau apakah orang tua siap menyediakan bekal yang memenuhi syarat?

3. PR dan Ulangan.
Karena seharian di sekolah, berarti setiap pelajaran sudah harus beres di sekolah, baik itu PR maupun pelajaran yang akan diberikan tes keesokan harinya. Ada beberapa sekolah yang sudah menerapkan ini. Pertanyaannya: apakah kemampuan semua siswa sama? Bagaimana dengan yang tidak secepat teman-temannya? Apa sepulang sekolah masih harus mengejar ketertinggalannya?
Pernah membawa pekerjaan kantor ke rumah? Bagaimana rasanya? Hal itu yang akan dirasakan oleh anak-anak yang ternyata masih membutuhkan tambahan pelajaran.
Hal ini tentu harus disiasati. Ada waktu di sekolah yang harus digunakan supaya semua siswa tidak membawa “pekerjaan” ke rumah lagi. Ketika sampai di rumah berarti waktu sudah untuk keluarga dan beristirahat.

4. Kegiatan lain yang menyangkut bakat dan minat.
Siapkah sekolah menyediakan ekstra kulikuler yang memadai? Bukan hanya tenaga pendidiknya, tetapi juga tempat dan fasilitasnya. Pasti dibutuhkan biaya ekstra untuk hal ini. Sekolah swasta mungkin, sekali lagi mungkin, masih sanggup. Sekolah negeri? Siapkah pemerintah menyediakan hal ini, tanpa membebani orang tua murid?

Anak saya termasuk yang suka bersekolah. Saya bersyukur bahwa sekolah, guru, dan teman-temannya bisa saling melengkapi. Dia juga termasuk anak yang mau belajar dan bisa menerima pelajaran dengan baik. Saat pulang ke rumah jam 2 siang, dia masih bisa tertawa lebar bercerita tentang keseruan hari itu. Di lain pihak, pekerjaan saya, membuat saya bisa berada di rumah saat dia pulang sekolah.
Saya bisa menemaninya bermain dan belajar saat sore maupun malam hari.
Anak saya tidak saya kursuskan macam-macam, karena minatnya hanya pada balet. Sementara ketrampilan yang lain seperti berenang, melukis, membuat kerajinan tangan, kami ajarkan sendiri sesuai dengan kemampuan kami.

Tetapi sebagai anak tunggal dan lingkungan tetangga yang anak sebayanya kurang, dia mungkin lebih suka di sekolah karena banyak teman-teman sebaya yang bisa diajak bermain. Dengan catatan, bahwa sekolah sehari penuh, berarti juga memberi waktu bermain yang cukup banyak bagi anak.

Bagi saya, lebih baik dia di sekolah daripada di rumah menonton sinetron atau kecanduan gadget. Lagi-lagi ini berarti sekolah dalam kondisi yang ideal. Sanggupkah sekolah menyediakan kondisi yang ideal ini?

Dan berbicara soal ideal, pasti ada harga yang harus dibayar. Pemerintah harus memikirkan ini untuk sekolah-sekolah negeri. Siapkah?
Lalu untuk sekolah swasta, jangan-jangan orang tua malah harus bekerja lebih keras lagi supaya sanggup memasukkan anak-anaknya ke sekolah seharian dengan kondisi ideal. Jangan-jangan malah membuat jam kerja orang tua semakin panjang.

Terakhir dan tidak kalah penting, bagaimana dengan guru-gurunya? Siapkah guru-guru menghadapi anak didiknya sehari penuh? Bagaimana dengan anak-anak mereka? Justru mereka yang harus dijamin pertama kali kesejahteraannya. Siapkah pemerintah?

Jalan masih panjang.
Mari sama-sama saling membantu, mengkoreksi, memberi kritik, tetapi juga siap memberi jalan keluar yang terbaik untuk sistem pendidikan di Indonesia.

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Start typing and press Enter to search