Diskusi di Kelas, Modal Hidup di Masa Depan

By August 5, 2016Kris Corner Blog

Diskusi di Kelas, Modal Hidup di Masa Depan

By August 5, 2016Pojok Kris

Pernahkah kita mendengar percakapan seperti ini?
A : “Aku malas mengikuti rapat, toh nantinya yang bicara orang-orang itu saja. Kita-kita ini paling hanya duduk diam…”
B : “Iya, kadang ingin mengusulkan sesuatu, tetapi kok ya susah mengutarakannya…”
C : “Di lain pihak, rekan kita yang satu itu kalau sudah bicara lupa berhenti…”
D : “Katanya diminta menyumbangkan saran, tetapi tidak diberi kesempatan berbicara…”

Pernah? Sering? Atau kita ada di situasi itu? Atau jangan-jangan kita yang ada di posisi kalau sudah bicara, lupa memberi kesempatan pada yang lain?

Ketika Kurikulum 2013 diperkenalkan di sekolah, salah satu bahannya ada yang mengajak siswa untuk berdiskusi di kelas dan berani mengeluarkan pendapat atau ide. Saat itu guru-guru pusing, siswa bingung, dan orang tua murid heboh, termasuk saya. Kenapa heboh? Sebab anak saya termasuk yang pemalu, “ikut apa kata golongan terbesar”, dan termasuk yang grogi kalau berbicara di depan banyak orang. Antara takut dan senang, saya mencoba memberikan semangat pada anak saya setiap berangkat sekolah. Peran guru di sekolahlah yang sangat menentukan akan kemana akhirnya anak-anak yang setipe dengan anak saya ini: berani berdiskusi atau malah diam di pojokan.

Metode diskusi sebetulnya merupakan salah satu metode pembelajaran yang paling umum digunakan di dunia pendidikan. Hanya saja ketika hal tersebut masuk kurikulum resmi dan diharuskan, banyak yang kaget. Jaman 90an ada yang namanya CBSA – Cara Belajar Siswa Aktif dimana belajar secara berkelompok diadakan di kelas pada masa itu.
Diskusi dan belajar berkelompok ini penting untuk meningkatkan kemampuan peserta didik. Apa saja pentingnya? Mari coba kita bahas bersama.

Dengan berdiskusi, peserta didik belajar berani untuk mengungkapkan pendapat, memberi kesempatan orang lain untuk berpendapat, dan menghargai pendapat orang lain.
Kemampuan kita untuk berdiskusi memang harus dilatih sejak muda, yaitu di kelas, saat berdiskusi masih belum “menentukan hidup matinya seseorang”, dan kalau salah, masih banyak waktu untuk belajar dan memperbaiki.

Berdiskusi bukan hanya 1 arah, tetapi berkomunikasi dengan “banyak arah” dan ini melatih peserta didik bisa menyampaikan maksudnya agar dapat dipahami oleh banyak orang, bukan hanya dipahami oleh dirinya sendiri. Menyampaikan pendapat, baik itu di dalam forum diskusi maupun di muka umum, membutuhkan teknik dan latihan yang tepat. Banyak pendapat yang bagus tidak tersampaikan dengan baik, dan sebaliknya, pendapat yang biasa saja didengarkan dengan antusias oleh orang banyak karena penyampaiannya yang tepat. Selain itu, berdiskusi juga melatih peserta didik untuk bisa menghargai perbedaan pendapat. Kalau pendapatnya tidak termasuk yang akan digunakan, peserta didik belajar untuk menerima dan tidak serta merta menjadi rendah diri. Kalau pendapatnya diterima, dia juga harus belajar untuk tidak serta merta menjadi sombong. Lagi-lagi, di sini peran guru sangat diperlukan.

Gunanya di masa depan? Sepertinya sudah jelas. Kemampuan berdiskusi dan berkomunikasi seseorang turut berperan dalam keberhasilan orang tersebut.

Dengan berdikusi, peserta didik juga belajar menghargai waktu dan berpikir cepat dan sistematis.
Kemampuan menghargai waktu dan berpikir cepat ini juga harus dilatih sejak muda. Peserta didik masih bisa diingatkan untuk “ayo cepat, giliran yang lain”, sementara ketika di kehidupan nyata, banyak yang merasa tidak enak ketika mengingatkan seseorang yang bicara tanpa henti.

Dengan berdiskusi, guru juga belajar menjadi “hakim” yang adil. Peran guru inilah yang tidak ada ketika kita berdiskusi di kehidupan nyata. Guru di kelas memang harus jeli melihat dan mengawasi peserta didiknya ketika berdiskusi. Peran guru dalam pembagian kelompok agar peserta didik yang aktif dan pasif bisa merata, juga ikut berperan dalam membuat diskusi menjadi hidup sehingga peserta didik tidak canggung mengeluarkan pendapat atau ide. Peran guru juga dibutuhkan untuk memotivasi peserta didik yang pemalu, mengatur peserta didik yang agresif, mengarahkan diskusi agar tidak melenceng kemana-mana, dan menjadi pencatat waktu yang baik dalam setiap diskusi.

Rambut boleh sama hitam, tetapi isi kepala berbeda-beda. Jadi untuk para guru, semangaaaattt yaaa dalam mengajak peserta didiknya untuk berdiskusi dan mengeluarkan pendapat. Kami orang tua mendukung dari belakang!

Pernahkah kita mendengar percakapan seperti ini?
A : “Aku malas mengikuti rapat, toh nantinya yang bicara orang-orang itu saja. Kita-kita ini paling hanya duduk diam…”
B : “Iya, kadang ingin mengusulkan sesuatu, tetapi kok ya susah mengutarakannya…”
C : “Di lain pihak, rekan kita yang satu itu kalau sudah bicara lupa berhenti…”
D : “Katanya diminta menyumbangkan saran, tetapi tidak diberi kesempatan berbicara…”

Pernah? Sering? Atau kita ada di situasi itu? Atau jangan-jangan kita yang ada di posisi kalau sudah bicara, lupa memberi kesempatan pada yang lain?

Ketika Kurikulum 2013 diperkenalkan di sekolah, salah satu bahannya ada yang mengajak siswa untuk berdiskusi di kelas dan berani mengeluarkan pendapat atau ide. Saat itu guru-guru pusing, siswa bingung, dan orang tua murid heboh, termasuk saya. Kenapa heboh? Sebab anak saya termasuk yang pemalu, “ikut apa kata golongan terbesar”, dan termasuk yang grogi kalau berbicara di depan banyak orang. Antara takut dan senang, saya mencoba memberikan semangat pada anak saya setiap berangkat sekolah. Peran guru di sekolahlah yang sangat menentukan akan kemana akhirnya anak-anak yang setipe dengan anak saya ini: berani berdiskusi atau malah diam di pojokan.

Metode diskusi sebetulnya merupakan salah satu metode pembelajaran yang paling umum digunakan di dunia pendidikan. Hanya saja ketika hal tersebut masuk kurikulum resmi dan diharuskan, banyak yang kaget. Jaman 90an ada yang namanya CBSA – Cara Belajar Siswa Aktif dimana belajar secara berkelompok diadakan di kelas pada masa itu.
Diskusi dan belajar berkelompok ini penting untuk meningkatkan kemampuan peserta didik. Apa saja pentingnya? Mari coba kita bahas bersama.

Dengan berdiskusi, peserta didik belajar berani untuk mengungkapkan pendapat, memberi kesempatan orang lain untuk berpendapat, dan menghargai pendapat orang lain.
Kemampuan kita untuk berdiskusi memang harus dilatih sejak muda, yaitu di kelas, saat berdiskusi masih belum “menentukan hidup matinya seseorang”, dan kalau salah, masih banyak waktu untuk belajar dan memperbaiki.

Berdiskusi bukan hanya 1 arah, tetapi berkomunikasi dengan “banyak arah” dan ini melatih peserta didik bisa menyampaikan maksudnya agar dapat dipahami oleh banyak orang, bukan hanya dipahami oleh dirinya sendiri. Menyampaikan pendapat, baik itu di dalam forum diskusi maupun di muka umum, membutuhkan teknik dan latihan yang tepat. Banyak pendapat yang bagus tidak tersampaikan dengan baik, dan sebaliknya, pendapat yang biasa saja didengarkan dengan antusias oleh orang banyak karena penyampaiannya yang tepat. Selain itu, berdiskusi juga melatih peserta didik untuk bisa menghargai perbedaan pendapat. Kalau pendapatnya tidak termasuk yang akan digunakan, peserta didik belajar untuk menerima dan tidak serta merta menjadi rendah diri. Kalau pendapatnya diterima, dia juga harus belajar untuk tidak serta merta menjadi sombong. Lagi-lagi, di sini peran guru sangat diperlukan.

Gunanya di masa depan? Sepertinya sudah jelas. Kemampuan berdiskusi dan berkomunikasi seseorang turut berperan dalam keberhasilan orang tersebut.

Dengan berdikusi, peserta didik juga belajar menghargai waktu dan berpikir cepat dan sistematis.
Kemampuan menghargai waktu dan berpikir cepat ini juga harus dilatih sejak muda. Peserta didik masih bisa diingatkan untuk “ayo cepat, giliran yang lain”, sementara ketika di kehidupan nyata, banyak yang merasa tidak enak ketika mengingatkan seseorang yang bicara tanpa henti.

Dengan berdiskusi, guru juga belajar menjadi “hakim” yang adil. Peran guru inilah yang tidak ada ketika kita berdiskusi di kehidupan nyata. Guru di kelas memang harus jeli melihat dan mengawasi peserta didiknya ketika berdiskusi. Peran guru dalam pembagian kelompok agar peserta didik yang aktif dan pasif bisa merata, juga ikut berperan dalam membuat diskusi menjadi hidup sehingga peserta didik tidak canggung mengeluarkan pendapat atau ide. Peran guru juga dibutuhkan untuk memotivasi peserta didik yang pemalu, mengatur peserta didik yang agresif, mengarahkan diskusi agar tidak melenceng kemana-mana, dan menjadi pencatat waktu yang baik dalam setiap diskusi.

Rambut boleh sama hitam, tetapi isi kepala berbeda-beda. Jadi untuk para guru, semangaaaattt yaaa dalam mengajak peserta didiknya untuk berdiskusi dan mengeluarkan pendapat. Kami orang tua mendukung dari belakang!

Leave a Reply