Menjadi Teladan

By June 13, 2016Opini, Pojok Kris

Bagi sebagian siswa, sekarang adalah libur kenaikan kelas. 1 bulan. Anak-anak sudah pasti senang. Tidak demikian dengan orang tuanya. Panik.

Akan dibuatkan aktifitas apa saja sebulan penuh itu supaya anak-anak tidak bosan? Atau kursus apa yang harus diikuti supaya mendapat tambahan kreatifitas?
Kalau saya sebagai anak, jawabannya gampang. Cukup diajak ke toko buku atau perpustakaan terdekat, maka saya akan tercukupkan sepanjang liburan.
Masalahnya, masihkah anak sekarang tertarik membaca buku? Berapa banyak yang lebih tertarik untuk main game, nonton youtube, atau malah buka-buka media sosial?

Buku apa sih yang membuat saya ketagihan membaca? Atau siapa sih, yang mempengaruhi saya sehingga bisa suka membaca?

Mari kita bernostalgia.

Selain orang tua saya yang memang mendukung, ada 1 guru di sekolah yang membuat saya berkata, ternyata banyak membaca itu keren. Waktu itu saya kelas 3 SD. Saya beruntung mendapatkan wali kelas yang dekat dengan anak-anak didiknya. Lebih menyenangkan lagi, ternyata Ibu Wali Kelas ini ikut naik ke kelas 4, dan jadi wali kelas saya lagi di kelas 4.

Salah satu kegiatan di kelas, apabila kami sudah selesai mengerjakan pelajaran hari itu adalah bermain cerdas cermat. Bahannya dari Buku Pintar. Buku ini seperti “Mbah Google” di jaman itu. Dari rumus matematika, sejarah bangsa-bangsa di dunia, sampai keterangan soal Shio dan Zodiak ada di buku itu. Banyak hal-hal baru yang saya pelajari dari buku itu. Akhirnya saya merengek ke orang tua untuk minta dibelikan buku itu. Harga Buku Pintar yang Junior Rp 5000. Jaman itu, itu uang jajan saya 25 hari. Jadilah saya “puasa” selama 1 bulan demi buku itu. Sementara Buku Pintar Senior Rp 13.500 saya dapatkan sebagai hadiah kenaikan kelas bersama buku-buku yang lain.

Apakah sepadan? Sangat! Setiap pulang sekolah, saya sempatkan baca. Sampai hari ini, 2 buku itu masih seperti “primbon” untuk saya. Bahkan, 10 tahun yang lalu ketika bingung memilih nama anak, saya juga mencarinya di Buku Pintar itu. Lengkap bukan?

Kegiatan sederhana di sekolah, hanya bermain tebak-tebakan, tetapi mempengaruhi seluruh kehidupan siswanya. Lebih luar biasa lagi ketika orang tua juga mendukung dan bekerja sama dengan guru di sekolah. Begitulah seharusnya “cinta segitiga” antara guru, siswa, dan orang tua. Bukan saling mengadu, saling menyalahkan, dan saling bersaing siapa yang paling benar.

Selamat menikmati liburan!

 

 

Leave a Reply