In Pojok Kris

 

Minggu ini sudah sah dinyatakan sebagai liburan sekolah. Semua anak dari TK sampai SMA sudah kompak memasuki libur sekolah. Tempat-tempat tujuan wisata mulai penuh dan antrian sudah bisa terlihat di mana-mana. Termasuk antrian di bioskop. Kalau yang ini, bukan hanya karena liburan saja, tetapi banyak film yang dinanti-nanti diputar bersamaan.

Jadi ceritanya, saya dan anak saya akan menonton film. Karena dadakan tanpa rencana, kami baru ada di antrian yang panjang itu, 15 menit sebelum film terakhir hari itu diputar. 3 lajur penuh. Semua antri dengan tertib. Sambil harap-harap cemas, saya bilang ke anak saya, kalau memang tidak dapat tiket, maka kita akan mencoba besok lagi. Sebab memang kita yang datang terlalu mepet. Anak saya mengangguk. Dia mengerti bahwa memang itu konsekuensinya. Dia tidak berhenti lompat-lompat di samping saya dan kadang maju ke depan untuk menghitung kurang berapa orang lagi sehingga kita bisa sampai di depan.

Ketika antrian tinggal 4 orang lagi, tiba-tiba ada seorang Ibu yang menggandeng anaknya mencoba memotong antrian 2 orang di depan kami. Yang dia potong antriannya kebetulan seorang remaja. Remaja tersebut terlihat menolak dan si Ibu masuk begitu saja ke belakangnya. Giliran orang di depan saya yang marah dan si Ibu dengan enteng masuk di depan saya.

“Bu, antri Bu.” Saya berusaha sopan.

Jawaban yang saya dapatkan di luar dugaan, “Saya buru-buru, lagi pula saya cuma beli 2 tiket.”

Wah. Ada yang cari gara-gara. Maka dengan mengeraskan volume suara, saya kembali berkata, “Semua di sini juga buru-buru, Bu. Lha memang ini antrian terakhir. Saya juga cuma beli 2 tiket. Antri, Bu.”

Posisi antrian bergerak maju dan si Ibu tetap tidak mau pindah. Anak saya cemberut.

Saya tidak kehabisan akal, saya bilang ke anak saya, “Kamu panggil Pak Satpam kesini untuk mindahin Tante ini.” Saya berharap si Ibu menjadi takut dan pindah.

Si Ibu menengok dan berkata, “Perkara gini saja lho, kok ya dibesar-besarkan.” Dia tetap tidak pindah.

Kali ini saya emosi. Untungnya sebelum saya sempat berkata lagi, kami sudah berada di depan loket. Si Ibu segera meminta dilayani. Di sinilah saya bersorak.

“Tolong antri, Bu. Ibunya silakan duluan, mau beli yang mana?” sambil mengalihkan pandangannya ke saya. Mbak penjaga tiket tersebut ternyata memperhatikan antrian di depannya juga!

Si Ibu pergi sambil mengomel dan setengah menyeret anaknya yang masih kecil untuk ikut bersamanya.

Mengantri sebenarnya adalah salah satu bentuk menghargai. Bukan saja menghargai orang lain, tetapi juga menghargai diri sendiri. Mengantri seharusnya sudah diajarkan sejak dini. Bukan hanya sebagai teori, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengantri mungkin terkesan sepele, tetapi pengaruhnya besar dalam kehidupan kita sehari-hari dan memang membutuhkan pengorbanan.

Anak saya langsung mendapatkan prakteknya, sementara anak si Ibu mungkin hanya mendapatkan teori, yang saya ragu apakah itu dia ajarkan juga atau tidak.

“Lihat, kamu harus bisa antri dan jangan menyela antrian, sebab itu merugikan orang lain,” kata saya segera setelah kami mendapatkan tiket.

Anak saya mengangguk. Dia sudah merasakan betapa menyebalkan berada di posisi orang yang di potong antriannya dan memalukan berada di posisi orang yang memotong antrian. Saya yakin, dia akan mengingat peristiwa ini dengan baik.

Akhirnya kami segera masuk dan menikmati film… dari baris paling depan…

 

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Start typing and press Enter to search